SEPUTAR NIPPON

MASA KEPENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA 


IDENTIFIKASI MASA AWAL KEDATANGAN JEPANG MELALUI GARIS WAKTU
 



 FAKTOR PENYEBAB JAPAN MELAKUKAN KOLONIALISME DAN IMPERALISME DI INDONESIA

        Mungkin banyak dari kita yang sering membaca atau mendengar istilah kolonialisme dan 
imperialisme. Sebenarnya apasih arti dari kata kolonialisme dan imperalisme, sebelum kita lebih lanjut membahas faktor jepang melakukan kolonialisme dan imperalisme di indonesia, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu arti dari kolonialisme dan imperalisme.

 

A. KOLONIALISME 

    Kolonialisme berasal dari kata colunus (colonia) yang berarti suatu usaha untuk untuk  mengembangkan kekuasaan suatu negara diluar wilayah negara tersebut. Kolonialisme pada umumnya bertujuan untuk mencapai dominasi ekonomi atas sumber daya, manusia, dan perdagangan di suatu wilayah. Wilayah koloni umumnya adalah daerah-daerah yang kaya akan bahan mentah untuk keperluan negara yang melakukan kolonialisme.  
 
        Kolonialisme merupakan suatu sistem dimana suatu negara menindas atau menguasai sumber daya dan rakyat negara lain namun masih tetap berhubungan dengan negara asal, Istilah ini memperlihatkan kepada himpunan keyakinan yang dipakai untuk memperomosikan sistem ini, terutama kepercayaan terhadap moral pengkoloni lebih hebat dari pada yang dikolonikan.

Adapun pandangan para ahli mengenai kolonialisme adalah sebagai berikut: 

1. Menurut alan Bullock, kolonialisme adalah bentuk dari penerapan penegakan hukum
 yang tajam dan radikal terhadap suatu negara jajahannya. Secara mudah, para pelaku penjajahan biasanya melakukan penaklukan dengan pendekatan menggunakan cara yang baik agar rakyat negara jajahan mudah dipengaruhi.

2. Menurut John Locke, kolonialisme didefinisikan sebagai kebijakan atau praktik kekuatan dalam upaya memperluas kendali atas masyarakat yang lemah atau suatu daerah.

3. Andre Gunder Frank menyampaikan pendapatnya mengenai pengertian kolonialisme ialah penghambatan pertumbuhan ekonomi negara jajahan yang diakibatkan negara penguasa yang berusaha memindahkan kekayaan negara terjajah pada negara penguasa.

    Sehingga kesimpulannya, kolinialisme adalah suatu sistem dimana suatu negara berusaha mengambil alih kekuasaan negara tertentu dengan cara mengendalikan rakyat dan sumber daya negara tersebut namun masih menjaga hubungan dengan negara jajahan tersebut. Kepercayaan utama dari sistem kolonial ialah moral negara pengkoloni lebih hebat daripada negara yang dikolonikan. Spanyol dan Portugal merupakan negara pertama yang melakukan kolonialisme.

 B.  IMPERALISME
    
    Istilah imperialisme yang diperkenalkan di Perancis pada tahun 1830-an , imperium Napoleon Bonaparte. Pada tahun 1830-an, istilah ini diperkenalkan oleh penulis Inggris untuk menerangkan dasar-dasar perluasan kekuasaan yang dilakukan oleh Kerajaan Inggris. Orang Inggris menganggap merekalah yang paling berkuasa (Greater Britain) karena mereka telah banyak menguasai dan menjajah di wilayah Asia dan Afrika. Mereka menganggap bahwa penjajahan bertujuan untuk membangun masyarakat yang dijajah yang dinilai masih terbelakang dan untuk kebaikan dunia.

    Imperialisme merujuk pada sistem pemerintahan serta hubungan ekonomi dan politik negara-negara kaya dan berkuasa , mengawal dan menguasai negaranegara lain yang dianggap terbelakang dan miskin dengan tujuan mengeksploitasi sumber-sumber yang ada di negara tersebut untuk menambah kekayaan dan kekuasaan negara penjajahnya. Imperialisme menonjolkan sifat-sifat keunggulan (hegemony) oleh satu bangsa atas bangsa lain. Tujuan utama imperialisme adalah menambah hasil ekonomi. Negara-negara imperialis ingin memperoleh keuntungan dari negeri yang mereka kuasai karena sumber ekonomi negara mereka tidak mencukupi. Selain faktor ekonomi, terdapat satu kepercayaan bahwa sebuah bangsa lebih mulia atau lebih baik dari bangsa lain yang dikenal sebagai ethnosentrism, contoh bangsa Jerman (Arya) dan Italia. Faktor lain yang menyumbang pada dasar imperialisme adalah adanya perasaan ingin mencapai taraf sebagai bangsa yang besar dan memerintah dunia, misalnya dasar imperialisme Jepang.

    Nah guys, itu lah  pengertian dari kolonialisme dan imperalisme secara umum. Lantas mengapa Jepang bisa menjadi negara imperialis? Padahal berdasarkan sejarah sendiri, Jepang pernah melakukan politik isolasi yang secara logika membuat mereka menjadi negara yang lemah dan terbelakang dari kehidupan internasional. Berikut Faktor pendukung Jepang untuk menjadi negara impralisme dan kolonialisme.

1. INGIN MENGUASAI SDA DI ASIA TENGGARA

    Pada tahun 1941 Amerika melakukan embargo minyak bumi ke jepang, saat itu jepang sangat membutuhkan minyak bumi untuk kebutuhan industri dan kebutuhan perang. Lalu pada 8 Desember 1941 jepang melancarkan serangan udara ke Amerika tepatnya di pearl harbour dan berhasil menghancurkan pertahanan militer Amerika serikat. Serangan jepang tak hanya di lancarkan ke pearl harbour, namun jepang juga melancarkan serangan nya ke Philipina dan Indonesia dengan tujuan mendapatkan cadangan logistik dan bahan industri perang seperti minyak bumi, timah, dan alumunium. Sebab cadangan SDA di Indonesia di perkirakan dapat memenuhi kebutuhan Jepang selama perang pasifik.


  2. PERTUMBUHAN PENDUDUK JEPANG 

        Kepulauan Jepang yang terletak di lepas pantai timur benua Asia membentang seperti busur ramping sepanjang 3.800 km dengan luas total 377.815 km persegi, sedikit lebih luas dari Inggris, hanya sepersembilan dari luas Amerika Serikat. Sebelum Restorasi Meiji (1868) Jepang sepenuhnya menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Akan tetapi sejak modernisasi yang dijalankan oleh Kaisar Meiji, Jepang mulai mengembangkan insustri dalam negeri. Memasuki abad ke-20, Jepang telah tumbuh menjadi negara modern dan negara industri pertama di Asia.

    Perkembangan yang mengagumkan itu sebaliknya membawa dampak yang tidak diinginkan sama sekali. Kemajuan-kemajuan tersebut diiringi pula dengan pertambahan jumlah penduduk yang pesat. Tentang perkembangan cacah jiwa penduduk di Jepang itu tercatat sebagai berikut:
Tahun 1828 = 26,5 juta
Tahun 1872 = 34,8 juta
Tahun 1920 = 55,4 uta
Tahun 1935 = 69,2 juta.  
Data di atas bermakna bahwa negara kepulauan yang miskin akan sumber alam tersebut kini menanggung jumlah penduduk yang sangat besar dalam luas yang relatif sempit. Kenyataan ini menjadi masalah yang meresahkan pemerintah Jepang. Karena dengan berlipatgandanya jumlah penduduk, menyebabkan Jepang menjadi negara minus. 

    Sebagai jalan keluarnya, Jepang pada awalnya menempuh kebijakan dengan jalan emigrasi. Namun setelah negara-negara menutup pintu imigrasinya bagi bangsa Jepang menyebabkan Jepang menjadi kalap dan haus tanah. Didukung oleh persenjataan militer yang kuat dan modern, Jepang mulai melakukan petualangan-petualangan milter yang merisaukan dunia. Masalah kepadatan penduduk inilah yang menjadi awal kesulitan Jepang dan menjadi faktor yang cukup penting dalam kerangka imperialisme Jepang di Asia.


3. PRODUK JEPANG TERHALANG OLEH KUOTA IMPOR 

    Saat-saat terbaik bagi jepang adalah dimana produk mereka dengan bebasnya bisa berkuasa di berbagai negara di dunia tanpa adanya pesaing. Mengapa bisa begitu? Mereka menekan harga jual di negeri lain dengan menaikkan tarif produk bagi negeri sendiri, atau yang biasa kita dengan dengan istilah politik dumping. Memang di awal waktu, taktik ini sempat berjaya dan berhasil. 

    Namun, dengan tersadarnya para negara menjadi lahan pasar jepang, taktik ini menjadi luluh lantah, dan produk jepang tidak laku terjual. Para negara pasar menyadari bahwa dengan masuknya produk jepang yang notabenenya merupakan produk yang sangat murah meriah, banyak produsen dalam negeri yang bangkrut. Sehingga kekayaan negara mengalami penurunan.

    Dengan adanya pembatasan produk-produk jepang oleh negara pasar, negara jepang mulai meyakini bahwa menjadi negara imperialis adalah pilihan tepat untuk memasarkan produk mereka.


4. PEKERJA JEPANG YANG TERBENGKALAI DI NEGERI ORANG 

    Tak hanya produk jepang yang mengalami pembatasan, para pekerja jepang yang berkualitas namun bisa dibayar murah juga membuat masalah di negeri pasar. Banyak para pekerja lokal yang menganggur akibat masuknya pekerja jepang yang handal namun murah. Maka dilakukanlah proses penyeleksian ketat terlebih dahulu bagi para pekerja jepang yang hendak bekerja di negerinya. Hal ini memang efekti dilakukan. Namun secara langsung, hal ini membuat banyak pekerja jepang yang tebengkalai dan terlantar di negeri orang karena tidak mendapat pekerjaan.
    
    Keadaan ini sangat disayangkan oleh kaisar jepang, hingga kaisar terbersit untuk mengubah negaranya menjadi negara imperialis agar para pekerja japang dapat bekerja layak dan tidak terbengkalai di negeri orang. 

5. RETRIKSI (PEMBATASAN) IMIGRASI BANGSA JEPANG 

    Sejarah emigrasi bangsa Jepang dimulai pda tahun 1868 dengan keberangkatan kapal yang memuat para pemukim Jepang yang pertama ke Hawaii. Pada tahun-tahun selanjutnya, Amerika Serikat dan Amerika Latin menjadi tujuan yang disukai oleh para emigran bangsa Jepang. Dalam waktu 70 tahun sebelum Perang Dunia II, jumlah orang Jepang yang beremigrasi adalah sekitar 700.000.

  Emigrasi bangsa Jepang ini kemudian terhenti setelah memuncaknya ketegangan antara Jepang dengan negara-negara Barat, dimana negara-negara di dunia menutup pintu untuk imigrasi dari Jepang, walaupun umpamanya wilayah Afrika maupun wilayah Amerika Selatan masing kosong dan luas.

    Untuk mengerahkan kelebihan penduduknya ke Asia atau Australia juga tidak memungkinkan karena negara-negara di Asia sudah dikuasai oleh imperialisme Barat yang nota-bene adalah musuh Jepang. Sementara itu Australia sudah lama menutup pintu imigrasinya bangsa bangsa non kulit putih, seperti yang dicatat oleh J.S. Siboro, bahwa:

    Dalam tahun 1880-1881 dan tahun 1888 diadakan konferensi antar koloni, dimana diputuskan bahwa semua koloni mengetatkan undang-undang imigrasinya. Antara tahun 1891 dan 1901, kebijaksanaan- kebijaksanaan untuk mempertahankan White Australia dikembangkan. Tujuannya adalah mencegah masuknya semua orang berkulit berwarna Sesudah federasi terbentuk, kebijaksanaan ini dinyatakan juga dalam undang-undang tahun 1901 dan terkenal dengan nama Imigration Retriction Act. Maksudnya adalah mencegah masuknya imigran non kulit putih.

    Sebenarnya pembatasan imigrasi bangsa Jepang itu dilatarbelakangi oleh ketakutan bangsa Barat akan superioritas Jepang membahayakan kedudukan mereka di Asia. Hal ini bermula ketika Jepang berhasil mengalahkan Rusia dalam perang tahun 1905 dan muncul sebagai “bahaya kuning” di Asia Pasifik. 

 6. SEMBOYAN HAKKO ICHIU

    Mayoritas penduduk jepang beragama shinto yang merupakan agama asli jepang. Dalam agama tersebut, ada sebuah ajaran yang membuat mereka terbersit untuk menjadi negara imperialis. Yakni adanya ajaran Hakko I Chiu dimana dalam ajaran tersebut, mereka meyakini bahwa seluruh bangsa di dunia ini adalah keluarga dengan jepang sebagai kepala keluarganya. Ajaran ini membuat niatan jepang dan tekad jepang menjadi negara imperialis sangat kuat.

    Hakko Ichiu berarti Delapan Penjuru Dunia Di Bawah Satu Atap. Satu atap yang dimaksud adalah di bawah Kekaisaran Jepang. Ketika paham fasisme dan ultranasionalisme mulai merebak di kalangan militer dan politisi Jepang pada 1920-an, mereka percaya bahwa ras mereka jauh lebih mulia dibanding yang lainnya. Oleh sebab itu, mereka merasa berhak meluaskan kekuasaan Jepang ke negara lain.

    Paham inilah yang kemudian disebut dengan Hakko Ichiu, yang digunakan Jepang untuk menguasai negara lain, termasuk Indonesia. Berbekal semboyan Hakko Ichiu, Jepang semakin terdorong untuk melakukan ekspansi. Terlebih lagi, angkatan bersenjatanya pun kuat dan banyak, sehingga Jepang semakin percaya diri untuk melakukan ekspansi ke negara lain. Sejak saat itu, Jepang berhasil mengikuti jejak Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Jerman, dan Rusia, sebagai negara imperialis. 


7. TERJADINYA KELAPARAN DI NEGERI JEPANG

    Semenjak jepang mulai kembali keluar ke dunia internasional dengan menghapuskan politik isolasi oleh Kaisar Meiji yang kita kenal dengan Restorasi Meiji, jepang sangat banyak belajar dari kemajuan negara amerika serikat yang merupakan negara yang membantu penghapusan politik isolasi. Dengan adanya semangat jepang untuk bisa memperoleh kemajuan seperti Amerika Serikat, jepang banyak meniru amerika di berbagai bidang, termasuk dalam bidang industri. Dengan semangat yang kuat, secara perlahan jepang bisa menjadi negara industri seperti amerika.

    Waktu terus berjalan, kehidupan industri jepang berkembang dengan sangat pesat yang membuat banyaknya lokasi hijau diubah menjadi lokasi industri, sementara wilayah jepang terbilang sempit. Hal ini menyebabkan mereka mengalami krisis pangan dikarenakan hilangnya sebagian besar lahan produksi pangan. Akhirnya terjadilah bahaya kelaparan yang menjangkit seluruh wilayah jepang.

    Di sisi lain, korea, negara tetangga jepang merupakan negara yang subur dengan sumber pangan yang melimpah. Dengan adanya bahaya kelaparan yang terjadi, jepang melakukan sejumlah impor bahan pangan dari negara korea. Namun, pastinya tidaklah mungkin suatu negara melakukan impor dalam jumlah besar secara terus menerus dikarenakan akan membuat kerugian bagi negara. Akhirnya terbesitlah pikiran jepang untuk bisa menguasai korea dengan menjadi negara imperialis agar warga negara mereka tidak lagi terkena bahaya kelaparan.


8. JEPANG BUTUH LAHAN PASAR DAN LAHAN PENANAMAN MODAL

    Dikarenakan jepang merupakan negara industri. Tentu mereka butuh lahan pasar untuk memasarkan hasil produksinya. Jika mereka hanya memasarkan kepada warga mereka sendiri, apa gunanya menjadikan negara sebagai negara industri. Di samping itu, kita semua tahu bahwa negeri China merupakan salah satu negeri dengan penduduk yang sangat banyak. Hal ini sangat cocok sekali apabila Jepang melakukan pemasaran terhadap penduduk China. Oleh sebab itulah Jepang berfikir bahwa jika mereka melakukan imperialisasi terhadap negeri China, mungkin saja mereka bisa memasarkan lebih hasil produksinya. Jepang pun terfikirkan akan jauhnya lokasi antara jepang dan china. Hal ini membuat adanya fikiran bahwa dengan mereka melakukan imperialisasi, mereka pun bisa turut menanamkan modal industri di negara tersebut.


9. ADANYA RESTORASI MEIJI

    Kemunculan Jepang menjadi negara imperialis tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Restorasi Meiji pada 1866-1869. Jepang merupakan negara kekaisaran yang seharusnya kekuasaan tertinggi berada di tangan kaisar. Namun, sejak abad ke-12, pemerintahan Jepang dijalankan oleh shogun atau panglima militer, sementara kaisar hanya semacam simbol. Selama pemerintahan keshogunan berkuasa, banyak terjadi ketidakpuasan dari rakyat yang kemudian menuntut pemulihan peran kaisar. Upaya pemulihan kekuasaan kaisar ini akhirnya dapat terwujud ketika Kaisar Matsuhito atau dikenal sebagai Kaisar Meiji, naik takhta. Pada akhir abad ke-19, Kaisar Meiji berhasil menggulingkan kekuasaan keshogunan dan berupaya memodernisasi Jepang melalui peristiwa Restorasi Meiji. Setelah restorasi, Jepang yang tadinya menutup diri dari negara asing, menjadi terbuka terhadap kehadiran asing.


KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA DI MASA KEPENDUDUKAN JEPANG

1. ASPEK EKONOMI

    Jepang menerapkan sistem ekonomi perang saat menduduki Indonesia karena kala itu mereka sedang menghadapi Sekutu di Perang Asia Timur Raya. Maka, hampir seluruh kebijakan ekonomi Jepang di Indonesia ditujukan untuk kepentingan perang. Berbagai aturan diterapkan Jepang untuk mengeruk sumber daya Indonesia. Sistem ekonomi perang mengakibatkan munculnya penyitaan pabrik, perkebunan, bank, perusahaan, dan lainnya. Hal tersebut berdampak terhadap penurunan produksi pangan, kelaparan, sampai kemiskinan.

Pemerintah militer Jepang di Indonesia menerapkan beberapa kebijakan dalam bidang ekonomi, antara lain sebagai berikut: 
  • Kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang maka seluruh potensi sumber daya alam dan bahan mentah digunakan untuk industri yang mendukung mesin perang. Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik, bank, dan perusahaan milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. 
  • Jepang menerapkan sistem pengawasan ekonomi secara ketat dengan sanksi pelanggaran yang sangat berat, dan mengendalikan harga untuk mencegah meningkatnya harga barang. Pengawasan perkebunan teh, kopi, karet, tebu dan sekaligus memonopoli penjualannya. 
  • Penanaman teh, kopi, dan tembakau dibatasi karena tidak langsung berkaitan dengan keperluan militer. Di sisi lain, Jepang menggalakkan penanaman padi, karet, kina, serta jarak untuk memenuhi kebutuhan perang.
  • Menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki (memenuhi kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang dengan otoriter). Konsekuensinya, semua aset negara dan kekayaan rakyat dikorbankan untuk kepentingan perang.
  • Tahun 1944, Jepang mulai terdesak sehingga tuntutan akan kebutuhan bahan-bahan perang semakin meningkat. Pemerintah Jepang mengadakan kampanye penyerahan bahan pangan dan barang secara besar-besaran. Rakyat dibebankan menyerahkan sebagian besar bahan pangan kepada pemerintah dan desa.

2. ASPEK SOSIAL

    Pemerintahan Jepang saat itu mencetuskan kebijakan tenaga kerja romusha. Romusha adalah sistem kerja yang paling kejam selama bangsa Indonesia ini dijajah. Tetapi, pada awalnya pembentukan romusha ini mendapat sambutan baik dari rakyat Indonesia. Namun, semua itu berubah ketika kebutuhan Jepang untuk berperang meningkat.

    Pengerakan romusha menjadi sebuah keharusan, bahkan paksaan. Hal tersebut membuat rakyat kita menjadi sengsara. Rakyat  dipaksa membangun semua sarana perang yang ada di Indonesia. Selain di Indonesia, rakyat juga dikerjapaksakan sampai ke luar negeri. Ada yang dikirim ke Vietnam, Burma (sekarang Myanmar), Muangthai (Thailand), dan Malaysia. Semua dipaksa bekerja sepanjang hari, tanpa diimbangi upah dan fasilitas hidup yang layak. Akibatnya, banyak dari mereka yang tidak kembali lagi ke kampung halaman karena sudah meninggal dunia.

    Selain romusha, Jepang juga membentuk Jugun Ianfu. Jugun Ianfu adalah tenaga kerja perempuan yang direkrut dari berbagai Negara Asia seperti Indonesia, Cina, dan korea. Perempuan-perempuan ini dijadikan perempuan penghibur bagi tentara Jepang. Sekitar 200.000 perempuan Asia dipaksa menjadi Jugun Ianfu.

3. ASPEK BUDAYA

    Pemerintahan Jepang menerapkan budaya memberi hormat ke arah matahari terbit kepada rakyat Indonesia Kaisar juga disebut memiliki tempat tertinggi dan diyakini sebagai keturunan Dewa Matahari. Nlai-nilai kebudayaannya ini dipaksajan kepada bangsa Indonesia, dan tentu saja mendapat tentangan dan perlawanan dari masyarakat.

    Pemerintahan Jepang juga mendirikan pusat kebudayaan yang diberi nama Keimin Bunkei Shidoso. Lembaga ini digunakan Jepang untuk mengawasi dan mengarahkan kegiatan para seniman agar karya-karyanya tidak menyimpang dari kepentingannya. Pers juga berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang. Dahulu, para seniman dan media pers Indonesia tidak sebebas sekarang. Pemerintahan Jepang mendirikan pusat kebudayaan yang diberi nama Keimin Bunkei Shidoso. Lembaga ini yang kemudian digunakan Jepang untuk mengawasi dan mengarahkan kegiatan para seniman agar karya-karyanya tidak menyimpang dari kepentingan Jepang. Bahkan media pers pun berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang.

4. ASPEK POLITIK DAN MILITER

    Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah Jepang selalu mengajak bekerja sama golongan-golongan nasionalis. Hal ini jelas berbeda dibandingkan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu golongan nasionalis selalu dicurigai. Golongan nasionalis mau bekerja sama dengan pemerintahan Jepang karena Jepang banyak membebaskan pemimpin nasional Indonesia dari penjara, seperti Soekarno, Hatta, dan juga Sjahrir.

    Jepang mengajak kerja sama golongan nasionalis Indonesia karena Jepang menganggap bahwa golongan nasionalis ini memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat Indonesia. Saat itu, Wakil Kepala Staf Tentara Keenam Belas, Jenderal Harada Yosyikazu, bertemu dengan Hatta untuk menyatakan bahwa Jepang tidak ingin menjajah Indonesia, melainkan ingin membebaskan bangsa Asia. Karena itulah Hatta mererima ajakan kerja sama Jepang. Akan tetapi, Sjahrir dan dr. Tjipto Mangunkusumo tidak mererima tawaran kerja sama Jepang.

    Namun, kemudian Jepang mengeluarkan undang-undang yang terkait pada bidang politik yang justru banyak merugikan bangsa Indonesia. Beberapa di antaranya:
1. Undang-Undang Nomor 2 tanggal 8 Maret tahun 1942, tentang larangan kepada orang Indonesia untuk berserikat dan berkumpul.
2. Undang-undang Nomor 3 tanggal 10 Mei tahun 1942, tentang larangan kepada orang-orang Indonesia untuk memperbincangkan pergerakan atau propaganda perihal peraturan dan susunan Negara.
3. Undang-undang tanggal 22 Juli tahun 1942, tentang larangan pendirian organisasi yang bersifat politik.

    Memasuki tahun kedua pendudukan (1943), Jepang intensif untuk mendidik dan melatih para pemuda Indonesia di bidang militer. Hal ini karena situasi di medan perang (Asia – Pasifik) semakin mempersulit Jepang. Mulai dari Sekutu pukulan di pertempuran laut dari Midway (Juni 1942) dan sekitar Laut Koral (Agustus ’42 – Februari 1943). Kondisi itu diperparah dengan jatuhnya Guadalacanal yang merupakan basis kekuatan Jepang di Pasifik (Agustus 1943).


SUMBER REFERENSI SEBAGAI FAKTOR PENDORONG ARTIKEL INI:
10. OTAK REYNARA ALBERT PRADANA (lupa sumbernya dimana)

Komentar

Posting Komentar